Kamis, 11 Agustus 2011

Belajar dari Kegilaan Nani


NENEK tua itu tinggal sendirian di sebuah perkampungan padat dan kumuh, di pinggiran kota. Meski sangat tidak layak ditinggali, namun tempat penuh sampah dan bau itu dianggapnya sebagai rumahnya yang sah. Sebab, ia punya bukti, yakni kotoran hasil ritualnya buang air besar setiap pagi. “Hanya pemilik rumah yang bisa buang tai di rumahnya sendiri,” katanya.

Ia tidak masalah disebut gila. Sebab,  ia bisa bicara apa saja tanpa takut dicurigai bertendensi. Dari hakikat kehidupan, kebohongan manusia, seks, ekonomi sampai korupsi. Baginya kegilaan bukanlah kejahatan. Justru di dunia ini hanya orang gila yang benar-benar suci. “Hanya orang gila yang tidak punya keinginan menyakiti,” katanya.

Karena itulah, ia mepertahankan gubuknyanya setengah mati. Dan memang pada liding dongeng filsuf jalanan benar-benar mati, setelah diberondong tembakan aparat yang memaksanya pergi. Naskah monolog berjudul “Oh” karya Putu Wijaya itu dibawakan dengan sangat lanyah oleh Nani Tandjung di Gedung E lantai III Udinus, Senin (13/12) malam.

Langka Meski mungkin bukan merupakan pertunjukan terbaik Nani, tetap saja kegilaan seorang nenek berusia 60 tahun di sebuah panggung teater selama 30 menit itu sudah merupakan kredit poin tersendiri. Khususnya di Semarang. 

Pertunjukan yang disutradai Sutarno SK, suaminya sendiri itu, tidak hanya dilakukan sekali. Sebelumnya, aktor kelahiran Sibolga, 26 Agustus 1950 itu sudah pentas di Mimbar Teater Indonesia, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Oktober lalu. Sebelum ke Semarang, ibu empat putra itu sudah lebih dahulu pentas di Jakarta dan Jepara.

Energi dan kegilaan berteater seorang Nani ini menjadi pembahasan yang menarik dalam diskusi. Sesi diskusi usai pertunjukan yang dibuka dengan penampilan Teater Kaplink dengan Rentjang Rentjong Keroncong Urban dan monolog Anzink ini, diikuti hampir seratusan orang. Menjawab pertanyaan tentang eksistensi ini.  Nani mengatakan, ia betah berteater disebabkan keberpihakannya pada kemiskinan.  (Anton Sudibyo-71)



SUARA MERDEKA 
CYBER NEWS
Semata-mata fakta

Semarang Metro

16 Desember 2010
Share :Facebook Twitter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar